Our site is
Maintenance

Wednesday, June 12, 2019

Jangan Tulis Kami Teroris


Dalam kumpulan tulisan ini, Linda merambah Asia Tenggara untuk mewawancarai kalangan yang sering dituduh sebagai teroris. Kelompok yang ia wawancarai mulai anggota Forum Pembela Islam (FPI), tokoh Gerakan Aceh Merdeka (GAM), warga biasa berbagai kalangan di Malaysia, Patani-Thailand Selatan, sampai Kamboja. Buku ini hendak membuka perspektif baru pembaca mengenai ketidakadilan dan kesewenang-wenangan yang bisa mengatasnamakan apa saja: suku, bangsa, agama, komunisme, nasionalisme, dan bahkan, demokrasi.

Salah seorang dari duet jubah putih itu menghampiri mobil kami dan bertanya-tanya dengan suara keras pada Tu Nazir yang sudah memegang kemudi. Pipinya agak tembam. Brewokan. Matanya nyalang. Tu menjawab tenang, "Ini wartawan mendengar dayah kalian dituduh sebagai sarang teroris. Dia ini ingin tahu apa benar atau tidak."

Orang berjubah ini membalas ucapan Tu, "Wartawan? Dulu ada wartawan BBC datang ke sini. Untuk wawancara, dia membawa 50 sak semen. Kalau ke sini wajib menyumbang." Hairul menghampiri lelaki berjubah putih yang tadi bicara pada Tu. Entah apa yang dikatakannya. Saat keduanya sedang terlibat percakapan, mobil bergerak menuju jalan raya. Tak berapa lama terdengar teriakan lantang orang-orang berjubah, "Jangan tulis kami teroris! Jangan tulis kami teroris!

Jangan Tulis Kami Teroris
PDF 4MB
Jika link rusak silakan lapor melalui halaman Contact Form.